Nelayan Batu Putih Masih Bergantung pada Tengkulak, DPRD Berau Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pesisir
Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris.
POSKOTAKALTIMNEWS,
BERAU : Potensi sumber daya perikanan Kabupaten
Berau selama ini dikenal melimpah. Namun di balik besarnya hasil laut yang
menjadi tumpuan hidup masyarakat pesisir, masih tersimpan persoalan mendasar
yang hingga kini belum sepenuhnya terselesaikan. Dimana para nelayan di
Kecamatan Batu Putih disebut masih bergantung pada tengkulak dalam memasarkan
hasil tangkapannya, kondisi yang dinilai menghambat peningkatan kesejahteraan
mereka.
Persoalan tersebut
mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris,
menilai sudah saatnya pemerintah menghadirkan sistem tata niaga yang lebih
berpihak kepada nelayan melalui pembentukan Kampung Nelayan Merah Putih,
sehingga para nelayan memiliki akses pasar yang lebih luas, posisi tawar yang
lebih kuat, dan tidak lagi bergantung pada perantara.
Menurut Gideon,
Kecamatan Batu Putih, khususnya Kampung Balikukup, merupakan salah satu wilayah
yang paling layak menjadi lokasi pengembangan program tersebut. Selain memiliki
potensi perikanan yang besar, sebagian besar masyarakat di kawasan itu
menggantungkan hidup dari sektor kelautan.
"Kami berharap
Batu Putih bisa menjadi salah satu lokasi Kampung Nelayan Merah Putih. Kalau
didata, estimasi nelayannya berkisar antara 500 hingga 700 orang. Program ini
bukan hanya bertujuan meningkatkan hasil tangkapan, tetapi yang paling penting bagaimana
nelayan tidak lagi dikuasai oleh tengkulak," ujarnya.
Apalagi hampir 90
persen masyarakat di Kampung Balikukup berprofesi sebagai nelayan. Bahkan, di
kawasan pesisir RT 01 dan RT 06, hampir seluruh kepala keluarga menggantungkan
sumber penghasilan dari aktivitas melaut.
Kondisi tersebut,
menurutnya, menjadi alasan kuat agar Kampung Balikukup Kecamatan Batu Putih
masuk dalam daftar prioritas pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih.
"Kami sudah
melakukan komunikasi mengenai hal ini. Kami mendorong agar Batu Putih
mendapatkan program Kampung Nelayan Merah Putih karena mayoritas masyarakat di
Balikukup benar-benar hidup dari sektor perikanan," katanya.
Gideon menegaskan,
persoalan yang dihadapi nelayan selama ini bukan semata-mata soal hasil
tangkapan, melainkan juga menyangkut sistem pemasaran yang masih bergantung
kepada tengkulak. Menurutnya, apabila koperasi nelayan dapat berjalan secara
optimal melalui program Kampung Nelayan Merah Putih, maka nelayan akan memiliki
alternatif dalam memasarkan hasil tangkapannya secara langsung dengan harga
yang lebih kompetitif.
Dengan demikian,
keuntungan yang selama ini dinikmati mata rantai distribusi diharapkan dapat
lebih banyak dirasakan oleh nelayan sebagai pelaku utama sektor perikanan.
"Harapannya
nelayan bisa langsung menjual hasil tangkapannya melalui koperasi. Dengan
begitu mereka tidak lagi bergantung kepada tengkulak," ungkapnya.
Lebih jauh, Gideon menjelaskan bahwa konsep Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya berfokus pada pemasaran hasil tangkapan. Program tersebut dirancang menjadi kawasan ekonomi terpadu yang mampu menjawab berbagai persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat pesisir, mulai dari penyediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional melaut, penguatan kelembagaan koperasi, hingga peningkatan pengawasan wilayah pesisir guna menekan praktik pencurian ikan atau illegal fishing.
Menurutnya, apabila seluruh fasilitas pendukung tersebut dapat diwujudkan, maka aktivitas ekonomi nelayan akan menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
"Selain memudahkan
pemasaran hasil tangkapan, Kampung Nelayan Merah Putih juga diharapkan mampu mengakomodasi
kebutuhan BBM bagi operasional nelayan serta mendukung pengelolaan kawasan
pesisir yang lebih baik," jelasnya. (sep/FN/Advertorial)